11/1/09

Polisi itu dengan tenang masuk ke dalam bus Double Deckers yang tengah saya tumpangi. Ia bicara sebentar dengan pak supir yang sedang bekerja dan kemudian dengan santun—didampingi oleh supir—berkata pada kami “Tanpa bermaksud rasis ataupun membedakan, dengan sangat hormat dan maaf…saya memohon bagi Anda yang merasa keturunan Asia untuk turun dari bus dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan yang telah kami sediakan,” Sebagai orang yang bukan cuma keturunan Asia, tapi memang orang Asia, saya tentu saja sebal.

“Apa-apaan ini?” umpat saya pada penumpang kulit putih di sebelah saya yang kemudian mengangkat bahunya tanda tidak mengerti. “Mungkin Anda belum tahu, sebentar lagi akan terjadi pertandingan di The Den akan lebih aman bagi Anda untuk mengikuti saran kami karena kami akan antarkan Anda ke pemberhentian tujuan Anda,”

Ada pertandingan sepakbola lalu ada apa ini? Begitu pertanyaan saya, sampai kemudian saya memahami bahwa nama tempat yang pak polisi bertopi panjang tadi sebut adalah kandang Milwall salah satu tim professional di Inggris. Hari itu saya sedang tinggal di London, saya sedang menuju studio kawan saya Jes Benstock yang sedang melibatkan saya di produksi video klip kelompok musik trance, Orbital dengan bintangnya Tilda Swinton yang saat itu masih belum sepopuler sekarang.

Tentu saja saya menjadi datang terlambat ke tempat pra produksi tapi Jes justru berkata “Saya hanya tahu Tottenham Hotspur, tapi jika saya tahu Milwall akan bertanding, memang lebih baik kamu berangkat lebih pagi sekalian,”

Masyarakat London mengenal Milwall sebagai salah satu tim dengan basis pendukung fanatik yang luar biasa “Mereka bahkan cenderung rasis,” ujar Jes, yang tentu saja tidak begitu saja saya percaya karena pendukung Spurs juga sama saja sangarnya.

Sepakbola Inggris memang mengalami perubahan yang sangat drastic. Setelah di berbagai era sangat dekat dengan kekerasan, kini sepakbola Inggris seolah jauh dari hingar bingar perkelahian jalanan dan kisah-kisah yang diabadikan di film-film seperti Football Factory, Rise of The Foot Soldiers atau yang terbaru Away Days seolah menjadi kisah-kisah masa lalu yang kini tidak lagi terjadi. Padahal…..kekerasan masih menjadi bagian dari kehidupan sepakbola di negeri Britania.

“Sistem keanggotaan yang membuat ini semua berubah,” ujar Antony Sutton, seorang Gunners yang kini menetap di Jakarta dan mencintai Liga Indonesia karena “Atmosfer yang kalian punya mengingatkan saya pada banyak hal yang saya alami di masa Liga Inggris masih belum seperti sekarang,” ujar lelaki dengan berbagai bekas jahitan di lengan, tangan dan punggungnya. “Tapi hooliganisme memang harus dienyahkan jika sepakbola ingin jadi professional penuh,” tegasnya.

Apakah negerinya The Beatles ini benar-benar telah mampu mengenyahkan orang-orang yang sering disebut “para perusuh” ini dari sepakbola? Jawabannya bisa iya atau tidak. Setiap kali saya menyaksikan pertandingan, di luar stadion wajah-wajah siap tempur itu selalu terlihat berada tak jauh dari stadion atau berada di bar untuk nonton pertandingan tim kesayangannya. Sementara di dalam stadion, biasanya saya bertemu wajah-wajah yang lebih damai dan tidak mudah tersulut emosinya.

Benar begitu? Tidak juga…. 2 orang yang saya yakin sebagai orang Jepang “salah masuk” tribun dan berakibat kemudian harus merelakan kaos Manchester United mereka diludahi dan diinjak-injak para pendukung Manchester City rival sekota United. Hari itu adalah partai derby antara dua tim Manchester walau mereka sendiri menyebut derby ini tidak sebrutal Spurs-Arsenal atau Milwall-West Ham, tapi tetap saja The Citizens sangat membenci Si Merah, United “Mereka lebih popular di dunia, padahal disini mereka hanya sampah,” ujar seorang lelaki berusia akhir 40an yang kaget saat pertanyaan “Who’s side you on?”nya saya jawab dengan “Anything but United,” pelukan hangat dan sebotol bir di jeda babak pertama menjadi tanda bahwa kami sama-sama tidak menyukai United.

Lelaki tersebutlah yang kemudian menyeruak melewati saya saat 2 orang Asia tadi muncul dengan kaos merahnya, aksi yang kemudian membuat 2 orang Asia lain yang berdiri tak jauh dari saya jadi ketakutan. Kedua orang yang kemudian saya temui dan mengaku dari Malaysia itu berkata dengan gemetar “Kita orang Asia pasti lebih tahu Manchester United kan?” saya hanya menepuk punggung mereka tanpa memberitahu siapapun di tribun itu tim apa yang di dukung oleh anak muda-anak muda itu. Sementara di sudut lain sebuah bendera Amerika Serikat tanda anti Glazer nyaris dibakar sebelum dihentikan oleh aparat kepolisian.

Hari itu Si Biru menaklukkan Si Merah dengan gagah, dan saya berada hanya sekitar 15 meter dari Robbie Fowler saat ia berlari merayakan gol  timnya yang ketiga. Adakah kekerasan di dalam stadion? Tentu tidak, tapi penyebabnya bisa saya pastikan bukan akibat rasa sadar para penonton untuk tidak menyerang lawannya “Kamu lihat sendiri berapa polisi yang terlihat di dalam stadion,” ujar lelaki tadi. Saya melihat jumlah polisi bisa berlipat luar biasa jika peluit akan ditiup “Mengapa pertandingan ini dilakukan pukul 12 siang? Karena jika dilakukan lebih sore atau di jam normal, kami sudah menenggak alcohol lebih banyak dari sekarang,” ujarnya tertawa.

Lepas pertandingan, saya pun memborong kaos-kaos yang terjual di pinggir jalan. Mulai dari yang bertulisan “I 8 ManU” sampai karikatur buncit Wayne Rooney dan sebagainya. “Hati-hati melewati jalanan itu, baru saja terjadi keributan,” ujarnya menunjuk sebuah arah….dan pemandangannya kini bukanlah keributan, tapi pak polisi yang sedang memasukkan beberapa lelaki berpakaian serba hitam dengan postur besar ke dalam mobil tahanan.

Inggris memang terus berusaha mengenyahkan prilaku kekerasan dari sepakbola. Cita-cita besar untuk menjadikan sepakbola Inggris menjadi liga paling mulia di muka bumi membuat mereka melakukan apapun untuk mencapainya. Di abad ini, kekerasan di dalam stadion memang praktis nyaris tidak ada. Dimasukkannya pelaku kekerasan ke daftar hitam yang berakibat hukuman menonton sepakbola seumur hidup di seluruh kegiatan liga memang membuat angka kerusuhan jadi berkurang. Tapi apakah demikian di luar stadion?

Tidak juga. Saya pernah menyaksikan perkelahian di Leicester Square—salah satu pusat pernongkrongan di London—antara beberapa orang yang kemudian diduga sebagai pendukung sepakbola. Saya juga pernah melihat perkelahian besar di Canary Wharfs, London antara beberapa kelompok pendukung klub London…JUSTRU di saat mereka bersama-sama menyaksikan partai pertama Inggris di Piala Dunia melawan Paraguay. Aksi yang membuat pecahnya kaca-kaca di stasiun Tube tersebut tak hanya menghentikan tontonan bareng tersebut tapi juga membuat banyak orang ditangkapi “Itulah Inggris, permusuhan antar pendukung ada terus bahkan saat tim kami bertanding di (Eropa) daratan,” ujar Justin yang datang bersama beberapa kawannya.

“Resistensi antar tim bisa kamu lihat dari radius berapa jauh para polisi ini terlihat,” ujar lelaki Citizen tadi. Memang satu jam sebelum pertandingan sampai selepas pertandingan, setidaknya saya terus melihat pihak keamanan mulai dari yang berjalan kaki sampai yang berkuda dan bermobil di radius 5 km dari stadion City of Manchester. Dengan keamanan yang berlapis dan berlipat seperti ini, memang nyaris tiada tempat bagi kekerasan disana.

“Setidaknya jika berkelahi, kami akan bertarung berhadap-hadapan,” ujar Tony di sebuah bar kota Dortmund. Hari itu negerinya akan turun di lanjutan kejuaraan dunia 2006 dan ia sedang bersiap untuk berpindah kota mengikuti Inggris bersama belasan kawannya yang terus bernyanyi di luar. Orang Inggris dengan mental turunan menaklukkan seluruh Eropa dan nilai tukar uangnya yang lebih tinggi itu berjalan berarak menuju stasiun, bergerak dengan bendera di tangan, gulungan kaos timnas yang diikat di kepala. Dengan bir di tangan dan perut buncit yang menjuntai mereka melangkah pasti menuju stasiun kota Dortmund untuk berpindah ke Stuttgart.

Satu kilometer dari bar tadi, ratusan pendukung Polandia sedang berkumpul menantikan partai menentukan Polandia-Jerman. Ratusan mulut dengan bau alcohol yang sangat menyengat……tiba-tiba nyanyian mereka berhenti dan mata mereka ragu-ragu memandang kea rah orang-orang Inggris yang melewati jalan itu….hanya lewat, karena Tony dkk memang tanpa sengaja melewati jalan itu.

 

 

 

10/13/09






Paulo Costa memandang lekat bola di kakinya, sejenak matanya mengubah focus pandangan ke dua-tiga lelaki sebaya dengannya yang berdiri tak jauh darinya. Remaja berusia 14 tahun itu mengangkat bola yang seolah melekat di kakinya dengan sangat ringan, ia bergerak cepat melewati hadangan lawan-lawannya dengan cara yang luar biasa. Menimang bola dengan pahanya, menginjaknya sampai membawanya berputar seperti kaki dan bola usang itu adalah dua organ yang tak terpisahkan.

Tak satupun yang sanggup menghentikan Paulo, geraknya sangat ringan, kecepatannya luar biasa. “Ia menikmati apa yang ia lakukan, hatinya hanya terfokus pada bola di kakinya, mereka yang dihadapi tidak terdapat dalam benaknya,” ujar Fernando Costa, ayah Paulo.

Fernando adalah tukang parkir di jalanan kota Rio de Janeiro, bersama Miranda ayahnya (yang berarti kakek dan Paulo) Fernando mengutip uang bagi siapa saja yang menggunakan jasanya memarkirkan kendaraan. “Paulo memiliki kaki penuh bakat seperti kakeknya, ia adalah pelaku Ginga (semacam gerak kaki khas Brasil) yang luar biasa,” jelas Fernando. Maka mulailah Miranda memraktekkan apa yang disebut oleh Fernando sebagai anugrah dari Tuhan pada sisa usianya yang semakin renta itu.

“Jika Tuhan memberi Paulo bakat berlebih, saya rasa yang harus ia terus jaga adalah bahwa bakat itu hanya bisa dikembangkan dengan kesenangan, tanpa kesenangan hidup hanya akan menjadi beban dan kita hanya akan menjadi budak keinginan,” ujar Miranda, seorang mantan pelaku Capoeira di pantai Copa Cabana bertahun lampau saat ia masih sangat muda.

“Saya lebih baik dari Ronaldinho sekalipun!” tegas Paulo menjelaskan tekadnya. Kecepatan kaki, insting serta senyum di wajahnya menegaskan hal tersebut, Paulo memiliki potensi sedahsyat Ronaldinho, seniman sepakbola asal Brasil yang selalu tersenyum di atas lapangan “Jika Ronaldinho sudah tidak lagi tersenyum di atas lapangan, itu berarti kreativitasnya sedang menemukan hambatan,” ujar Rikon Gunadharmada, penggila bola asal Jakarta.

Sepakbola adalah permainan yang menyenangkan, sesuatu yang dikerjakan dengan antusiasme besar untuk menikmati apa yang disebut permainan terindah di muka bumi. Berlari, melompat, melepas umpan sampai melepaskan tendangan adalah kegiatan mendasar dari permainan dengan bekal bola kulit ini. Kesenangan dan kebahagiaan saat memainkannya adalah cara terbaik untuk menikmatinya, sehingga sepakbola menjadi lebih indah seperti saat kita menikmati apa yang selalu kita sebut sebagai hidup.

Siang itu Paulo Costa berlari di atas lapangan sesungguhnya. Ia menjadi bagian dari remaja-remaja masa depan bagi tim Portuguesa, salah satu tim professional yang bermain di liga utama Brasil. Mengenakan rompi merah, Paulo bergerak lebih berat dari biasanya, wajahnya terus berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan diatas lapangan. Tak ada lagi keriangan dalam dirinya, cita-cita besar untuk mengeluarkan keluarganya dari favela (rumah kumuh) di kota Rio jauh lebih besar membebaninya daripada kenikmatan pada si bola bundar itu sendiri.

Paulo memang bergerak lincah, melewati satu-dua-tiga bahkan empat orang sekaligus. Tapi ia lupa bahwa esensi sepakbola bukan melulu kesendirian, rasa sosial dan kolektivitas adalah ajaran utama permainan ini. Seperti hidup yang menempa kita untuk terus berinteraksi, sepakbola juga meminta kita untuk tidak melakukannya sendirian, karena manusia memiliki keterbatasan….tidak seperti sepakbola dan hidup yang memang sangat luas itu.

Terik matahari Rio membakar kulit remaja-remaja yang datang dari penjuru kota Rio, bakat-bakat masa depan bagi sepakbola Brasil serta keindahan permainan itu di mata dunia. Mereka tampak tegang menatap si pemandu bakat yang siap membuka kalimatnya.

“Siang ini saya melihat bakat-bakat hebat kalian dengan bangga, bakat-bakat yang bisa jadi suatu hari akan mengenakan kemegahan warna kuning tim nasional kita,” ujar lelaki berusia 40-an itu. Wajah Paulo tertunduk, ia terlihat tegang dan berharap sangat cemas.

“Pilihan ini tidak hanya didasarkan pada kemampuan individu saja, karena pesepakbola yang baik adalah mereka yang berguna bagi timnya, orang yang mau berbagi bola, membuka serta memberi ruang bagi rekannya serta ingat pada falsafah permainan ini…kolektivitas,” maka disebutlah 4 nama yang menyisihkan 23 nama lainnya. Dalam satu kalimat pendek, si pemandu bakat menegaskan bahwa seperti hidup, sepakbola adalah sebuah situasi interaksional, hubungan antar manusia yang dikecilkan dalam sebuah lapangan berukuran 110 m x 90 m.

Dalam bus yang membawanya pulang, Paulo memandangi kota Rio yang sibuk, pipinya dibasahi oleh air mata yang perlahan mengalir, impiannya kandas. Bukan sekedar mimpi menjadi seorang pemain besar, impian melepaskan keluarganya dari himpitan ekonomi sekaligus keluar dari favela terpaksa runtuh. Cita-cita meneruskan apa yang dilakukan Roberto Carlos, Felipe Melo, Juan dan banyak nama lainnya pada keluarganya kandas sudah.

Paulo mungkin tidak sadar, ketika impiannya menjadi semakin besar dan harapan keluarga tersandang ke pundaknya, sepakbola menjadi tidak lagi menyenangkan. Kesenangan bersama si kulit bundar menghilang begitu saja berganti dengan keinginan untuk sekedar mempertontonkan kemampuan diri sekaligus memamerkannya.

*dari dokumenter Ginga, segment Paulo Costa.

Ditulis untuk Piala  Coca-Cola turnamen yang lebih membawa kita pada kesenangan