7/7/09

Kau mengkhianati Bapakmu?” Tanya Yesus dari Nazareth sambil tersenyum bijak pada Judas, salah seorang muridnya yang baru saja menciumnya. Judas tertegun dan inilah awal dari segala rasa bersalah yang kemudian menghantuinya. Sampai akhirnya ia mati gantung diri.

Judas mengkhianati Yesus demi sekantung emas yang dibayarkan oleh tentara Romawi yang memang menginginkan Yesus. Tanpa rasa, ia memberikan jiwa Yesus yang juga menyayanginya pada siksa dan penyaliban. Sementara Yesus dengan jiwa besar hanya memandang Judas dengan senyuman dan kemudian menjalani hukumannya dengan penuh iman kebenaran.

“Permainan sepakbola telah dikhianati!” teriak Sergio Cragnotti, pemilik klub Lazio ketika gol Fabio Cannavaro (saat itu bermain untuk Parma) ke gawang Juventus dibatalkan wasit. Bahkan dengan mata telanjang, siapapun tahu bahwa sundulan kepala itu dilakukan bersih dari pelanggaran apapun. Tapi wasit memang berkehendak lain.

Seminggu kemudian Juventus pun resmi menjadi kampiun Serie A. Jika saja gol Cannavaro dianggap sah sehingga partai tadi menjadi seri, hasil akhir liga masih bisa berbeda. Selisih nilai memungkinkan Lazio untuk mengejar ketertinggalan angkanya. Kemenangan atas Parma memupuskan sekaligus mematahkan harapan Sergio Cragnotti.

Sergio Cragnotti berteriak dan memprotes hasil tersebut. Ia bahkan sempat nyaris membawa kasus ini ke pengadilan. Pendapat bahwa keputusan wasit mutlak dan mereka adalah juga manusia biasalah yang kemudian mampu meredakan amarah Cragnotti. Ia mencoba untuk sabar, dan hasilnya terlihat setahun kemudian. Ketika biru langit miliknya ini mampu “menikam” Juventus di akhir kompetisi untuk kemudian menjuarai Serie A.

Ketika Teixeira Vitienes menunjuk titik putih hari minggu lalu, meledaklah stadion Mestalla dalam kemarahan. Canizares dengan wajah penuh kemurkaan menghampiri Vitienes dan coba memprotes keputusan tersebut. Pemain lainnya, Amedeo Carboni, Roberto Ayala, Curro Torres sampai David Albelda pun turut mengejar dan coba membuat wasit membatalkan keputusannya.

“Saya yakin menyentuh bola terlebih dulu, jika ia terjatuh tentu saja karena geraknya terhenti oleh tackle bersih tadi,” tukas Ayala setelah pertandingan. Siapapun yang menyaksikan pertandingan ini lewat layar televisi tentu akan setuju pada pembelaan bek asal Argentina tersebut. Namun, wasit  punya pandangan lain dan pandangan tersebut bersifat absolut. “Wasit telah mengkhianati keadilan,” sergah Canizares. Suara senada pun dilontarkan oleh pemain lainnya.

Tapi hanya sampai situ. Tak satupun pemain Valencia berlaku berlebihan pada malam itu. Mereka memang mengejar wasit dan mempertanyakan keputusan ajaib tadi. Tapi titik penalti telah ditunjuk, pertandingan harus terus berjalan dan Valery Karpin telah diputuskan untuk mewakili Real Sociedad mengambil tendangan dua belas pas tersebut.

Jika Yesus dikhianati dengan sengaja oleh Judas, maka mungkin saja Valencia telah dikhianati tanpa sengaja. Namun keduanya memiliki persamaan yang hampir sama. Mereka sama-sama tegar menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai kecurangan.

El Che menjawab pengkhianatan itu dengan aksi menggila di lapangan. Vicente Rodriguez bermain bagai mata pisau yang terus menyayat sisi kanan pertahanan lawan, Ruben Baraja dan Albelda bahu membahu menyeimbangkan lapangan tengah dan Mista Ferrer atau Miguel Angel Angulo bersatu menjadi dua tombak yang tanpa henti menghunjam ke dada lawan. Hasilnya, Valencia tetap berada di puncak klasemen dengan hasil seri 2-2 malam itu.

“Saya puas terhadap reaksi para pemain. Mengagumkan!” komentar Rafael Benitez pelatih tim dengan julukan kelelawar tersebut. Tentu saja ia membayangkan jika saja para pemainnya bereaksi berlebihan, memprotes, mengejar-ngejar wasit, mencekik atau bahkan memukulinya tentu saja hasil akhir pertandingan tersebut akan berbeda. “Sama saja dengan membiarkan Real Madrid menggantikan posisi kami,” tegasnya.

Tapi Mestalla memang bukan Stadion Benteng, Tangerang. Anak-anak asuhan Rahmad Dharmawan bagai tak sadar bahwa emosi adalah sesuatu yang sangat penting untuk dikendalikan dalam tekanan atau situasi seberat kompetisi liga sepakbola. Keputusan apapun yang diberikan oleh wasit—terlepas dari benar atau tidak—jika dianggap merugikan tidak harus direpon kekerasan.

Sikap tegas wasit hanya dianggap sebagai penegasan sebuah kecurangan. Hampir semua media massa nasional menangkap tangan kapten tim Bayi Ajaib sedang mencekik wasit Jimmy Napitupulu. Belum lagi rekaman adegan-adegan kekerasan lainnya yang lebih mirip adu kungfu ketimbang pertandingan sepakbola.

Emosi yang berlebihan ini yang kemudian menambah siksa bagi anak-anak Persikota. Dua kartu merah bagi dua pemain kunci adalah dua buah kerugian besar, terlepas dari apapun penyebabnya. Lihat David Beckham yang ibunya dihina sedemikian rupa oleh bek Turki, Alpay Ozalan. Lihat dampak kontrol emosinya bagi tim Inggris—setidaknya—malam itu. Bandingkan dengan yang diterima oleh si penghina di tanah Inggris.

Tak perlu menjadi Yesus atau Muhammad SAW atau Siddharta Gautama sekalipun untuk bisa memahami kontrol diri, menghargai lawan sekeras apapun prilakunya sekaligus menghargai kecurangan yang dialami.

Lazio telah membuktikannya, Beckham dan Inggris telah menunjukkan hasilnya. Bisa jadi akhir Mei nanti Valencia memberi pembuktiannya. Sebuah tim besar bukan cuma tim yang mampu menaklukkan setiap lawan dengan skor besar. Tapi juga adalah tim yang memiliki jiwa-jiwa yang besar dalam diri pemain atau ofisialnya.

7/6/09


""Kebijakan politik gue jelas, hanya memilih mereka yang memberi saya proyek!" ujar saya setengah bercanda setengah tegas, tapi pastinya kalimat saya tersebut sangat jelas dan sudah biasa didengar kawan-kawan saya. Banyak dari teman yang ingat, bagaimana kami (dan juga saya) kabur dari rumah kontrakan saat kuliah dulu hanya karena kami tidak bersedia datang ke TPS untuk memilih salah satu dari 3 partai yang saat itu terus bertanding dengan kita sudah tahu siapa pemenangnya. Di kesempatan pertama saya memilih, saya malah sibuk meluruskan rambut gondrong saya dengan Wella Straight daripada buru-buru berangkat ke TPS.....amukan orang tua saya yang pegawai negeri lah yang kemudian membuat saya bersedia datang ke TPS (setelah sebelumnya pulang ke Jakarta dari Bandung) untuk kemudian mencocol berulang kali sampai si kertas suara itu rusak.
Karena pernah datang ke TPS, mungkin saya tidak masuk ke terminologi Golput, karena golongan anti Hijau, Kuning dan Biru itu menyebut bahwa mereka adalah orang-orang yang datang ke TPS saja tidak mungkin. Tapi apa peduli saya? Pastinya saya belum pernah benar-benar menggunakan hak pilih saya, karena setiap kedatangan selalu berarti ada kertas suara yang terbelah, bolong besar atau bahkan lenyap karena saya pajang di kamar kost misalnya. Saat itu saya malah memilih, justru bukan karena kesadaran politik saya rendah, tapi karena bahkan 10 tahun sebelum pertandingan di mulai, kita sudah tahu nomor punggung berapa yang akan naik ke atas mimbar, lalu buat apa ikut memilih? 11 tahun setelah rezim itu turun dan kita berada dalam kehidupan demokrasi paling dahsyat dari yang pernah dibayangkan, cara berpikir saya sedikit bergeser. Bukan karena kita sudah tahu siapa yang akan menang, tapi "Apa iya kita punya pemimpin sebenarnya?" Ketika pemimpin terus berganti bahkan pernah lebih cepat dari kecepatan saya mengganti celana dalam. Saya kemudian kembali bertanya "Apa iya dunia politik dan kekuasaan yang melibatkan hajat orang banyak ini bisa membuat kita (manusia) semua bahagia?" Mendekati saat pemilihan kapanpun waktunya, saya melihat wajah-wajah orang Indonesia yang berharap luar biasa pada kandidatnya. Saya bisa jadi hanya melihat wajah mereka di televisi atau komentar mereka di surat kabar, tapi saya melihat wajah-wajah yang siap menggantungkan harapannya pada calon pemimpin yang sedang sibuk berjanji. Orang-orang yang kemudian hanya bisa bahagia saat pilihannya tak cuma memenuhi janjinya, tapi juga bisa terbawa memiliki kekuasaan sehingga kebahagiaan itu hanya bersifat mengelompok. Sikap yang tentu berbeda dengan para supporter sepakbola di dunia ini yang tanpa ampun dan syarat terus mendukung timnya, tak peduli korupsi sebesar apa, kekalahan sememalukan apa atau bahkan rela menyeberangi lautan demi tim kesayangannya. Orang-orang yang tetap setia pada simbol kesebelasannya, hanya karena mereka seorang pendukung. SIkap yang pasti berbeda dengan pendukung politik yang terus siap berubah haluan tak peduli si pasangan saat ini adalah pihak yang dulu pernah membantai golongannya sendiri. "Penegakan demokrasi adalah harga mati bagi bangsa ini," ujar lebih dari seorang kandidat. Saya seolah ingin meludahi mukanya dan mengetes IQ-nya. Dia seperti tidak tahu bahwa negeri ini adalah negeri paling demokratis di Asia Tenggara. Negeri yang membiarkan orang membakar tempat hiburan atas nama sebuah agama, siapapun bisa turun ke jalan sembari memaki siapapun, karya intelektual bisa dilarang beredar di sebuah daerah hanya karena alasan yang tidak masuk akal. Kenangan atas bahaya diciduk oleh aparat karena turun ke jalan di masa saya kuliah kini sudah tidak ada lagi. Lalu demokrasi macam apa lagi yang kita inginkan? Kekuasaan untuk kencing di Istana Merdeka kah? Bahkan bicara tatap muka dalam suasana yang informal dengan sang presiden saja kita tidak punya, dan ini bukan karena tidak pernah dicoba tapi karena presiden kita selalu mengambil jarak yang sangat tegas dengan rakyatnya (kalo gak percaya, denger aja kampanye salah seorang kandidat di radio Trax fm 101,4.) Kandidat lain berucap tentang Pemberdayaan Wanita. Terdengar luar biasa memang, tapi apa kita tidak sadar....di dunia ini tidak banyak negara yang bisa punya presiden perempuan dan Indonesia adalah salah satunya. Pemberdayaan apa lagi yang mereka ingin kerjakan? Wanita berperan sebagai kandidat Tuhan? Di berbagai kekuatan ekonomi, politik bahkan rumah tangga di negeri saya, wanita sudah menjalankan peran yang sangat besar, saya tentu saja sangat tidak berkeberatan dengan hal ini. Tapi terus berkata bahwa wanita harus lebih diberdayakan bagi saya adalah sebuah pelecehan bagi wanita-wanita hebat itu sendiri, karena tuntutan pada mereka menjadi sangat besar. 2 hari lagi kita akan "menentukan" arah negara ini selama 5 tahun ke depan. Saya mendorong pembaca blog ini untuk datang ke TPS dan memilih dia yang memiliki kekuatan untuk membuat kita bahagia, jika Anda rasa tidak ada, silakan berolahraga yang segar di rumah karena hari itu hari libur. Saya tidak akan meminta Anda untuk Golput, karena dalam hati, pasti ada kandidat yang bisa dianggap terbaik. Sementara Anda memiliki persyaratan sendiri, maka saya memilih dia yang mampu berpikir cepat, tidak protokoler dan tentu saja PAHAM SEPAKBOLA sekaligus MEMAHAMI FILOSOFINYA. Kalimat ini tentu tidak tendensius pada satu kandidat, bukan pula karena dalam darah saya (kata ibu saya kakeknya datang dari sana) ada darah sebuah etnis yang kini seperti memaksa saya untuk berangkat ke TPS dan memilih dirinya. Tentu bukan juga karena saya mengagumi Paolo Maldini dan pernah mengenakan nomer kaus yang sama dengan yang ia pakai semasa ia berlari di lapangan lewat AC Milan maupun tim nasionalnya. Saat blog ini saya post. Saya masih yakin bahwa di hari Rabu itu saya akan bersepeda keliling Jakarta atau sekedar yoga di dekat rumah. Tapi jika saya kemudian saya datang ke kotak kecil itu, Anda seharusnya tahu siapa pilihan saya..... .........semoga saya tidak memutuskan untuk datang kesana.