11/6/06




"Hardline comes home," kalimat ini yang saya sampaikan pertama kali pada Anita, seorang gadis manis asal Amsterdam yang bertemu saya di pembukaan festival Konfiden. Saya senang, untuk pertama kalinya Hardline bisa berkompetisi di tanah air di festival yang berskala relatif besar di negeri saya.
Hardline adalah karya kedua saya setelah Jakarta Is Mine. Bersama kakaknya Jakarta Is Mine, film ini--bagi saya--sudah memperoleh pengakuan cukup layak di luar sana. Di Jerman ia dipilih menjadi
Official Element World Cup 2006, di Rotterdam Film Festival 2005 ia dipilih untuk berkompetisi dan disebut sebagai "The most beautiful supporter's song ever recorded on video," di sinopsis resmi festival di Belanda tersebut.
Konfiden memang bukan kompetisi pertama Hardline di Indonesia, Hello Fest tahun 2005 adalah yang pertama. Tapi, saya merasa lebih lengkap dengan festival ini. Bukan kar
ena direktur festivalnya kawan lama saya, tapi karena bagi saya Konfiden adalah festival film pendek independent pertama di tanah air. Di mata saya, pemunculan Konfiden tujuh tahun tahun lampau adalah cikal bakal popularitas istilah sinema independent.
Hardline adalah bagian kecil dari proyek dokumenter panjang saya yang awal tahun depan akan beredar luas di publik film sepakbola. Di durasinya yang hanya 5 menit, saya hanya coba memaparkan bagaimana sepakbola adalah juga lebih dari sekedar hidup bagi masyarakat Jakarta khususnya (dan tentu saja Indonesia). Masih segar di memori saya saat Franz Beckenbauer dengan wajah yang simpatik menepuk pundak saya dan berkata "So you're from Indonesia? I had no idea that Indonesian are so crazy about football," Saat itu saya hanya tersenyum kecut mendengarnya, karena bagi saya fanatisme anak-anak Jakmania di Jakarta masih bisa diperdebatkan rasa h
ard-core nya dibanding saudara-saudara mereka di kota lain. Saya nyaris bercerita pada Sang Kaisar, bahwa di Bandung ada seorang remaja yang mentato punggungnya dengan formasi pemain Persib, tim kesayangannya dari kota Bandung.
Diputa
r perdana di Berlin, Hardline pergi berkeliling dunia. Beberapa negara yang bisa saya catat (karena sempat diputar berdasarkan jadwal tur panitia World Cup ke negara-negara peserta sebelum kejuaraan) Trinidad & Tobago, Republik Ceska, Argentina, Iran dan Perancis. Di luar itu ia juga ditayangkan di berbagai festival kelas dunia, dan saya sangat berterima kasih pada hasilnya sampai hari ini.
Hardline comes home, it's coming home....dan saya tidak sabar menyaksikannya bersama teman-teman Jakmania saya.

1 komentar:

Anonymous said...

Lebih seru kalau ilustrasi fotonya ada foto tattoo di punggung fans Persib itu!