12/8/06


Aa Gym bukan tempat pijat apalagi fitness centre. Nama ini adalah nama dari seorang ustadz kondang asal Bandung. Saya pertama kali mendengar namanya lima tahun lalu dan mengira bahwa teman saya sedang mengajak saya berolahraga. Belakangan saya semakin mengenal namanya dan menemukan fakta bahwa ia adalah sebuah merk yang dahsyat. "Dia bisa bicara dengan perspektif lintas agama," ujar seorang ibu yang duduk di kursi kerete Semarang-Jakarta empat tahun silam.

Sebagai seorang documentary filmmaker saya mengunjungi padepokannya di pesantren Daarut Tauhid, kawasan Geger Kalong, Bandung. Sebuah tempat yang sempat menggugah saya untuk menghentikan keinginan saya untuk terus membuat film "Gue mending jadi ustadz aja deh
," begitu kira-kira ujar saya pada Solenn, produser saya yang orang Perancis. Tentu dia tertawa, tapi saya rada serius.

Dengan (kalau tidak salah) 16 perusahaan yang dimiliki, Aa (atau 'kakak' dalam bahasa Sunda) adalah seorang pengusaha, bagi saya ia adalah sebuah merk yang bergengsi. Memang tidak seluruh usaha yang ia jalankan berjalan mulus atau terbang ke langit, tapi setidaknya kenyataan ini sudah sanggup membuat dirinya tidak hanya dikenal sebagai seorang penceramah, tapi juga seorang pengusaha berduit.


Di pondoknya hari minggu itu, saya melihatnya berceramah yang disiarkan langsung lewat RCTI, di pondok itu juga saya merasa ia hanya tinggal berteriak "Bandung....are you ready to roooocccckkkk...!!!!" untuk menegaskan citra populer yang bersemat di dadanya. Para pendengar ceramah yang 90% di antaranya adalah wanita ia buat terpukau oleh celotehan yang saat itu berkisar pada cerita tentang "Wanita pahlawan keluarga".

Saat saya coba mewawancarai istrinya, saya hanya mendengar sedikit kalimat sang istri dan malah mendapat penjelasan dari Aa, padahal saya hanya bertanya soal "Sukanya nonton acara tv apa 'teh?" Siapa yang menjawab bukan urusan saya, karena urusan saya adalah mendapatkan jawaban secukupnya dari nara sumber.

Belakangan, lewat berbagai media, saya mendengar lagi nama Aa. Penyebabnya sederhana dan tentu saja bukan karena ia tiba-tiba ingin menyaingi Gold's Gym, Mybody Gym atau Ade Rai Gym. Aa kawin lagi dan ini cukup membuat masyarakat terpana. Para ibu pencintanya seperti meragukan kredibilitas sang idola, pemerintah sontak terpanggil untuk membuat UU anti poligami dan aktivis perempuan sibuk mengumpulkan petisi "Kecewa pada Aa Gym"

Pada titik ini pendapat saya semakin tertegaskan dan makin yakin bahwa sosok dengan merk Aa Gym sedang mengalami "cobaan". Mirip seperti sebuah kontroversi keabsahan kualitas dan kandungan sebuah produk. Bedanya, saya kurang yakin Aa bisa bangkit dan membalikkan kepercayaan khalayak, jikapun iya....maka dia akan butuh waktu.

1 komentar:

Anonymous said...

bagi saya Aa Gym adalah merk yg superfisial. saya pernah liat dia tampil di tv ceramah sama istrinya. sang istri naik ke panggung jg tapi cuma mesam-mesem dan angguk-angguk, iya-in aja apa kata suaminya.
huh!
sptnya bukan hubungan yang setara. pasti diam2 istrinya depresi. cuma mesti jaim aja, menjaga popularitas suaminya (yg juga artinya menjaga agar brand tetap berkibar dan bisnis tetap lancar).