2/5/07


"Jakarta Darurat!!!" tulis Kompas, yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai fakta banjir luar biasa di ibu kota. "70 persen kawasan Jakarta direndam air," demikian salah satu kalimat yang saya ingat dengan jelas di hari Senin 6 Februari 2007 ini. Ibukota tenggelam dan aneka peradaban yang ada di sana seolah tak kuasa menahannya. Saya terkesima, karena 5 tahun lalu saat pertama kali air berhasil masuk rumah saya, kota kelahiran saya ini gak banjir-banjir amat, saya masih bisa leluasa naik kendaraan umum bepergian kemanapun saya mau.


Kini, di tahun 2007 atau lima tahun kemudian, saat jumlah mall semakin gila dan gedung tinggi semakin berlomba mencakar langit, kota saya justru dilanda banjir luar biasa. Ratusan ribu orang merana dalam genangan air dan saya percaya mayoritas dari jumlah ini adalah kaum tak berpunya di kota Jakarta. Saya keheranan, justru di saat air tak mampir ke dalam rumah saya, Jakarta justru tenggelam...bahkan lebih parah.

Ibukota negara berpenduduk 250 juta ini bagai runtuh, modernitas yang terus digerakkan sebagain lambang kota megapolitan bagai tak bermakna. Jakarta lumpuh dan percayalah, tak lama lagi Jakarta akan runtuh bersama kesombongan pembangunan tanpa pola dan rasa.

1 komentar:

Anonymous said...

gue dateng ke blog ini berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan gue, tapi gue juga tidak menemukan jawaban

mungkin, jawaban kita tidak pernah ada atau mungkin
kita kurang berusaha untuk menemukan nya

yang pasti pertanyaan gue adalah pertanyaan loe juga, pertanyaan kamu juga, anda-anda dan juga mereka

pertanyaan nya adalah : kenapa?