3/13/07




"I can't imagine how's european lived 500 years ago," ujar saya berulang kali jika mulai kedinginan di tanah Eropa. Beragam jawabnya "We're tough people," kata Reinaart Vanhoe seorang kawan dari Rotterdam. "I think they fuck a lot so we survive," ujar Patryk di Budapest. Begitu? Bisa jadi, pastinya saya lebih banyak menerima gelengan kepala dan senyuman jika pertanyaan ini saya lontarkan.




Well, yang pasti saya tidak bisa membayangkan jika di abad modern ini bangsa Indonesia mengalami masa-masa kedinginan di beberapa bulan dari 12 bulan setiap tahunnya. Saya membayangkan orang Indonesia biasa hidup di negeri tropis dengan budaya tropis yang kental. Pemalas? Saya tidak berani berkata demikian, nenek moyang saya berlayar dari Bugis menuju Sumatra untuk kemudian salah satunya menurunkan saya di dunia ini. Data itu membuat saya jadi yakin jika salah satu nenek moyang saya jugalah yang pernah berlayar sampai Australia jauh sebelum James Cook melancong kesana. Orang Papua juga dikenal sebagai pemburu ulung, tak peduli di era modern etnis lain menganggap mereka pemalas karena tak suka bertani. Terlalu banyak contoh yang harus saya paparkan dan bisa membuat bosan pembaca blog ini. Pertanyaan saya kemudian, apa yang terjadi dengan bangsa saya? Negeri saya dipenuhi etnis yang harusnya saling bersaing untuk jadi yang terbaik. Kancut bolong jika dilempar ke tanah bisa menjadi minyak bumi bahkan kondom bekas saja bisa jadi emas di negeri saya. Tapi lihat kenyataannya, negeri saya terus merana tak punya apa-apa. Hutang sana dan sini, minta bantuan sana dan sini, sementara (nyaris) semua hasil daya alam kita terbang entah kemana. Siapa pemilik tambang minyak di seantero Indonesia? Pemilik nikel di Sulawesi Selatan sampai emas di Papua, kita? Baca koran mas kalo masih punya pendapat itu.


Lihat Norwegia, saya yakin minyak di negeri itu tak ada apa-apanya bahkan oleh hasil Dumai sekalipun, tapi tengok apa dampaknya. Finlandia pun demikian, hasil alam mereka relatif minim jika dibandingkan dengan Indonesia, tapi apa yang negeri ini bisa perbuat....sekolah gratis, teknologi tanpa henti, transportasi yang baik, jalanan yang terawat, jaminan sosial yang mencukup dll. Saya meringis karena saya tetap orang Indonesia dan tak akan bisa melepaskannya. Sementara kawasan Eropa lain sudah mulai hangat, Finlandia masih saja membeku. Maklum mereka berbatasan langsung dengan Kutub Utara.






"Indonesia salah urus!!!" ujar Suparmadi bapak tua klayaban yang saya temui berulang kali di Budapest. Betul kata dia, jika negeri saya benar diurus, saya yakin hari ini kita yang sedang memberi hutang pada Amerika Serikat dan sedang berlabuh di Irak.

1 komentar:

Anonymous said...

Katanya sih lebih baik punya sumberdaya manusia yang handal dalam keterbatasan sumberdaya alam, daripada punya sumberdaya alam yang besar dengan sumberdaya manusia yang lemah...gitu. bener ga?