.jpg)
18 Juli 2007, Indonesia – Korea Selatan (0-1)
“Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang……” lagu yang disadur dari lagu daerah Papua berjudul Apuse ini lantang berbunyi di Gelora Bung Karno. Saya melihat, mendengar dan turut menyanyikannya dengan keras bersama puluhan ribu orang disana. Banyak dari mereka memegang gambar Burung Garuda, lambang Indonesia yang terpajang di kaos mereka. Satu hari dalam hidup kami, kami bangga jadi orang Indonesia.
Beberapa jam sebelum pertandingan, saya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya pernah menyaksikan langsung di stadion partai-partai besar dunia, tapi saya belum pernah melihat negara saya secara langsung di turnamen sebesar ini. Piala Asia 2007 membuat rasa nasionalisme saya jauh lebih besar daripada saat saya membawa bendera merah putih berkeliling kota Berlin satu tahun lalu. Saya terpana pada apa yang saya sendiri lakukan, sepakbola telah membuat saya merasa bahwa menjadi orang Indonesia sama pentingnya dengan menjadi orang Brasil, Argentina, Polandia atau Kroasia.
Bendera yang nyaris tak pernah disentuh kembali saya ambil dari lemari, kaos tim nasional merah dan putih saya siapkan. Dua kaos lain bertuliskan Indonesia saya siapkan rapi di dalam tas. Hari ini saya ingin melihat negeri saya memenangkan pertandingan. Hati ini nervous, sama seperti teman saya Aldi yang tiba-tiba menelpon sekita pukul 03.00 malam hanya untuk berkata “Gue gak bisa tidur, semoga Indonesia besok menang,”
Saya dan Aldi adalah dua orang yang selalu memaki negeri ini yang dipenuhi kerumitan. Mulai dari birokrasi sampai ke urusan-urusan kecil yang bisa membuat sakit kepala. Tetap penampilan tim merah putih di Bung Karno membuat kami berkata “Masih ada tempat bagi merah putih di hati ini,”
Gelora Bung Karno dipenuhi orang-orang yang rindu para prestasi tim nasionalnya. Saya coba mengartikan dari sudut pandang berbeda, persis seperti kata Ivan seorang teman Kroasia tahun lalu “Sepakbola membuat dunia mengenal kami,” lalu saya pandangi puluhan ribu massa itu, mereka ingin Indonesia menang, dikenal dan mampu berkata “Kami juga punya tim terbaik dunia,”
Gol yang diciptakan Kim Jung Woo di menit 33 memang mampu membuat kami terdiam sesaat, tapi hanya dalam hitungan detik, teriakan “INDONESIA…INDONESIA…!!!” kembali berkumandang. Siapapun Anda, pengalaman mendukung Indonesia adalah hal yang sangat luar biasa dan ketika kami kalah, kami berkata pada diri ini “Kami telah mendukung tim yang luar biasa,”
Indonesia takluk, tapi Uki anak Makassar itu dengan tegar berkata “Hari ini kita siap kalah, melawan Arab kita tidak kalah,” ujarnya. Kami berpelukan sebagai dua orang Indonesia yang mungkin tidak akan bertemu jika kami tidak mencintai permainan ini, permainan luar biasa yang sanggup mengubah dunia. Di menit yang sama, Tika mengirim SMS pada saya “Huuuu…Indonesia kalah, mungkin memang harus nunggu Gaby lahir ya,”
Empat jam setelah timnas takluk, saya mengnhampiri Abigail Siswo, putri saya yang baru berusia 19 hari “Gail, tugasmu 10 tahun lagi adalah cerewet pada Gabriel supaya dia rajin latihan ya, mungkin Indonesia memang harus menunggu dia,”
0 komentar:
Post a Comment