8/26/07


Piala Coca-Cola akhirnya masuk Bandung juga, setelah 2 kali berturut-turut cuma manggung di Jakarta, satu-satunya turnamen antar SMA dengan format 5on5 ini datang juga ke kota kembang. Sebagai alumni universitas paling hebat se Jawa Barat, Unpad tentu saja saya datang kesana. Kota ini memang banyak berubah, kemacetan di akhir pekan semakin mantafffff, matahari makin panas dan tentu saja semakin banyak arah jalan yang berubah.
Toh, semangat saya buat nonton Piala Coca-Cola tetap gak ada matinya. Secara garis besar formatnya masih sama, sistem grouping yang membagi 64 tim peserta, sistem setengah kompetisi dan tentu saja aturan-aturan dasar yang memang sudah baku ala Coca-Cola. Bertanding di tempat yang relatif lebih kecil dari lapangan PTIK Jakarta tidak membuat gairah turnamen ini surut. Barudak Bandung dengan nafsunya mendukung timnya, misalnya saja anak-anak SMA Persada yang khusus membawa scarf sepakbola sampai ke tenda supporter. Lucu juga melihat mereka, apalagi keberadaan scarf di Eropa tak lebih karena udara disana memang lebih banyak dinginnya daripada panasnya.
Di lapangan UPI ini saya juga bertemu dengan teman lama, seorang pentolan kelompok suporter asal Bandung yang ternyata sempat hidup bertetangga dengan Arry Susanto alias si Katel. Dengan penuh antusias Heru melihat calon-calon pemain Persib ini berlaga. Ia pun tak sungkan untuk turun bermain dengan anak-anak gawang yang tentu saja lebih cocok jadi mantunya ketimbang teman satu tim.
Di masa kuliah dulu, saya menemukan gairah sepakbola luar biasa dari Bandung. Bobotoh yang luar biasa fanatiknya dan Stadion Siliwangi yang nyaris jarang sepi. Sekarang saya melihat gairah itu tumplek ke lapangan UPI dalam skala yang berbeda.