Berikut adalah alasan mengapa sebuah karya bisa dilarang tampil di hadapan umum....
1. Mengandung unsur propaganda Yahudi
2. Mengandung unsur penghinaan terhadap Islam atau orang Arab (ingat kasus True Lies)
3. Mengandung unsur pornografi
4. Menyebar kedengkian terhadap rezim yang berkuasa
The Jak bagi siapapun yang menonton hanyalah sebuah potret tentang fanatisme sekelompok orang terhadap klub kebanggaannya, ia sama sekali tidak mengandung keempat unsur diatas. Nyatanya di Bandung, The Jak mendapat protes keras dari sekelompok orang yang saya yakin belum pernah menonton film itu tapi sudah nekad datang dengan semangat penuh mengancam. "Jika tidak ingin terjadi sesuatu di Blitz, maka tolong turunkan film The Jak," demikian kira-kira ucapan mereka.
Hanya 1 hari kemudian sosok penting dari Blitz (orangnya kayaknya model yang gak mau namanya disebut-sebut....bisa jadi menghindari infotainment) menghubungi saya dan bertanya "Bagaimana? Apakah Yusuf masih nyaman untuk terus tayang di Bandung?" tentu saja saya mengamini pertanyaan tersebut. Lalu pergilah saya ke Bandung dengan penuh semangat mempertontonkan apa yang sudah saya kerjakan selama ini. Nyatanya saya harus berhadapan dengan sebuah fanatisme yang memang sudah saya perkirakan, namun tidak saya kira bisa menyerbu ke ruang seni juga. Fanatisme itu bernama sepakbola dan dengan butanya ia mampu mencegah muncul kembalinya sinema digital ke layar bioskop Indonesia.
Saya yakin siapapun mereka yang datang mengancam itu pasti belum pernah menonton The Jak. Saya yakin--sebagai orang yang percaya bahwa sepakbola adalah wahyu baru dari Tuhan--bahwa para pengancam ini sebenarnya akan melihat potret mereka sendiri dari perspektif yang berbeda (kebetulan musuh besar mereka) lewat The Jak. Dokumenter ini adalah potret bahwa sepakbola juga sebuah kepercayaan, hal besar yang mampu mengubah dunia, simbol sekaligus representasi ideologis seseorang.
Tanpa sedikitpun pretensi negatif, saya mendukung penarikan film The Jak oleh pihak manajemen Blitz di Bandung. Tak ada guna tetap mempertontonkan film itu jika kemudian ancaman yang sudah ditebar ternyata dibuktikan (saya percaya hanya ancaman kosong, tapi siapa bisa jamin?) Masih ada antrian ide saya yang bisa saya tunjukkan pada orang Bandung, bahwa Ini Hanya Soal Sepakbola Dan Kepercayaan Kalian Juga di masa depan.
1. Mengandung unsur propaganda Yahudi
2. Mengandung unsur penghinaan terhadap Islam atau orang Arab (ingat kasus True Lies)
3. Mengandung unsur pornografi
4. Menyebar kedengkian terhadap rezim yang berkuasa
The Jak bagi siapapun yang menonton hanyalah sebuah potret tentang fanatisme sekelompok orang terhadap klub kebanggaannya, ia sama sekali tidak mengandung keempat unsur diatas. Nyatanya di Bandung, The Jak mendapat protes keras dari sekelompok orang yang saya yakin belum pernah menonton film itu tapi sudah nekad datang dengan semangat penuh mengancam. "Jika tidak ingin terjadi sesuatu di Blitz, maka tolong turunkan film The Jak," demikian kira-kira ucapan mereka.
Hanya 1 hari kemudian sosok penting dari Blitz (orangnya kayaknya model yang gak mau namanya disebut-sebut....bisa jadi menghindari infotainment) menghubungi saya dan bertanya "Bagaimana? Apakah Yusuf masih nyaman untuk terus tayang di Bandung?" tentu saja saya mengamini pertanyaan tersebut. Lalu pergilah saya ke Bandung dengan penuh semangat mempertontonkan apa yang sudah saya kerjakan selama ini. Nyatanya saya harus berhadapan dengan sebuah fanatisme yang memang sudah saya perkirakan, namun tidak saya kira bisa menyerbu ke ruang seni juga. Fanatisme itu bernama sepakbola dan dengan butanya ia mampu mencegah muncul kembalinya sinema digital ke layar bioskop Indonesia.
Saya yakin siapapun mereka yang datang mengancam itu pasti belum pernah menonton The Jak. Saya yakin--sebagai orang yang percaya bahwa sepakbola adalah wahyu baru dari Tuhan--bahwa para pengancam ini sebenarnya akan melihat potret mereka sendiri dari perspektif yang berbeda (kebetulan musuh besar mereka) lewat The Jak. Dokumenter ini adalah potret bahwa sepakbola juga sebuah kepercayaan, hal besar yang mampu mengubah dunia, simbol sekaligus representasi ideologis seseorang.
Tanpa sedikitpun pretensi negatif, saya mendukung penarikan film The Jak oleh pihak manajemen Blitz di Bandung. Tak ada guna tetap mempertontonkan film itu jika kemudian ancaman yang sudah ditebar ternyata dibuktikan (saya percaya hanya ancaman kosong, tapi siapa bisa jamin?) Masih ada antrian ide saya yang bisa saya tunjukkan pada orang Bandung, bahwa Ini Hanya Soal Sepakbola Dan Kepercayaan Kalian Juga di masa depan.
1 komentar:
Maaf mengganggu.Mari bergabung ke Arisan Internet Terbesar. Mudah,murah,tak perlu cari anggota. Sistem bekerja sendiri.Klik saja http://www.arisan-10.biz/?id=11243. Terima kasih.
Post a Comment