Akhirnya The Conductors muncul di depan publik. Kerja keras luar biasa tim kerja Bogalakon akhirnya menunjukkan hasilnya. Saya tidak bisa berkomentar pada karya yang satu ini, pastinya saya percaya dan akan terus berkata bahwa The Conductors adalah sebuah kerja kolektif. Bisa jadi inilah salah satu alasan mengapa saya sangat ingin menjadi filmmaker sejak saya merasa gagal dengan Jakarta Project sekitar 8 tahun yang lalu.
Sepakbola adalah ikon yang saya anggap sebagai agama, saingan berat agama-agama besar yang sudah mapan di muka bumi ini dan saya sangat mencintai serta mengaguminya. Di sepakbola manusia diajarkan untuk bekerja secara kolektif dan setiap orang menjadi unit. Dalam permainan ini juga kita diajarkan untuk memahammi arti pengendalian diri.....seorang pesepakbola yang baik selalu tahu kapan harus mengumpan, menahan bola, menggiring bola atau bahkan melepaskan tendangan ke gawang lawan. Di permainan yang maha agung ini juga kita diajarkan bahwa hidup hanyalah bagian dari sebuah unit kecil yang membentuk bagian yang lebih besar, itulah yang menggerakkan kita semua.
Dunia film dan bagaimana pekerjaan itu sendiri mengajarkan pada saya, bahwa seni yang telah menjadi industri ini juga mengenal kolektivitas. Ketika Maradona membutuhkan Jorge Valdano sebagai sang intelektual atau Zidane butuh Deschamps, Petit dan Djorkaeff untuk menyeimbangkan lini tengah, maka sutradara sehebat apapun dia juga membutuhkan editor, produser, gaffer, DP sampai ke sekedar tukang buat kopi.
Sutradara adalah kapten kesebelasan, ialah yang pemimpin di dalam lapangan. Sosok yang menjadi pengarah sebuah tim, pemimpin besar yang menjadi nakhoda sebuah tim.....namun! tanpa tim itu sendiri, seorang sutradara hanyalah sebuah individu yang tak berarti.
Chemonk Faiz Tjotjona si DP terasyik adalah penyerang saya, ialah target man yang terus saya beri umpan-umpan matang dan bola-bola daerah maupun lambung yang lezat. Arry Susanto, Budi Kurniawan, Suratno dan Restu adalah pemain di lini tengah saya yang solid. Lalu di posisi belakang saya memiliki duo Darwin Nugraha dan Ismail Basbeth yang bahu membahu membantu pertahanan karena lewat tangan merekalah The Conductors kemudian memiliki jalinan cerita yang menarik sekaligus suara yang bisa dinikmati. Di lini ini pulalah saya letakkan Giox sebagai bek kanan dengan tugas menyelaraskan suara yang telah dirapihkan oleh Ismail. Lalu di sisi kiri saya tempatkan Edmond Waworuntu yang dari tangan dan intuisinyalah lahir komposisi promosi yang mampu menarik minat penonton.
Last but not least adalah Amir Pohan, saya tempatkan ia berdiri di bawah mistar. Karena di tempatnyalah kami menata film ini secara online sekaligus membenarkan warna yang telah ada. Lalu.....dimanakah saya berada? Bogalakon Pictures adalah sebuah rumah produksi independen, baru lahir dan bertekad menempatkan dirinya sejajar dengan nama-nama besar di industri tetap dengan semangat indie. Maka, saya percaya bahwa lawan-lawan kami jauh lebih kuat, dan untuk memenangkan sebuah pertandingan atas lawan dengan kapasitas sedikit diatas, maka kami harus menguatkan lini tengah.
Saya berdiri di tengah, sebagai playmaker, memastikan bahwa lawan tak akan mampu masuk ke lini pertahanan kami sekaligus menjadi poros dari segala serangan.
Sepakbola adalah ikon yang saya anggap sebagai agama, saingan berat agama-agama besar yang sudah mapan di muka bumi ini dan saya sangat mencintai serta mengaguminya. Di sepakbola manusia diajarkan untuk bekerja secara kolektif dan setiap orang menjadi unit. Dalam permainan ini juga kita diajarkan untuk memahammi arti pengendalian diri.....seorang pesepakbola yang baik selalu tahu kapan harus mengumpan, menahan bola, menggiring bola atau bahkan melepaskan tendangan ke gawang lawan. Di permainan yang maha agung ini juga kita diajarkan bahwa hidup hanyalah bagian dari sebuah unit kecil yang membentuk bagian yang lebih besar, itulah yang menggerakkan kita semua.
Dunia film dan bagaimana pekerjaan itu sendiri mengajarkan pada saya, bahwa seni yang telah menjadi industri ini juga mengenal kolektivitas. Ketika Maradona membutuhkan Jorge Valdano sebagai sang intelektual atau Zidane butuh Deschamps, Petit dan Djorkaeff untuk menyeimbangkan lini tengah, maka sutradara sehebat apapun dia juga membutuhkan editor, produser, gaffer, DP sampai ke sekedar tukang buat kopi.
Sutradara adalah kapten kesebelasan, ialah yang pemimpin di dalam lapangan. Sosok yang menjadi pengarah sebuah tim, pemimpin besar yang menjadi nakhoda sebuah tim.....namun! tanpa tim itu sendiri, seorang sutradara hanyalah sebuah individu yang tak berarti.
Chemonk Faiz Tjotjona si DP terasyik adalah penyerang saya, ialah target man yang terus saya beri umpan-umpan matang dan bola-bola daerah maupun lambung yang lezat. Arry Susanto, Budi Kurniawan, Suratno dan Restu adalah pemain di lini tengah saya yang solid. Lalu di posisi belakang saya memiliki duo Darwin Nugraha dan Ismail Basbeth yang bahu membahu membantu pertahanan karena lewat tangan merekalah The Conductors kemudian memiliki jalinan cerita yang menarik sekaligus suara yang bisa dinikmati. Di lini ini pulalah saya letakkan Giox sebagai bek kanan dengan tugas menyelaraskan suara yang telah dirapihkan oleh Ismail. Lalu di sisi kiri saya tempatkan Edmond Waworuntu yang dari tangan dan intuisinyalah lahir komposisi promosi yang mampu menarik minat penonton.
Last but not least adalah Amir Pohan, saya tempatkan ia berdiri di bawah mistar. Karena di tempatnyalah kami menata film ini secara online sekaligus membenarkan warna yang telah ada. Lalu.....dimanakah saya berada? Bogalakon Pictures adalah sebuah rumah produksi independen, baru lahir dan bertekad menempatkan dirinya sejajar dengan nama-nama besar di industri tetap dengan semangat indie. Maka, saya percaya bahwa lawan-lawan kami jauh lebih kuat, dan untuk memenangkan sebuah pertandingan atas lawan dengan kapasitas sedikit diatas, maka kami harus menguatkan lini tengah.
Saya berdiri di tengah, sebagai playmaker, memastikan bahwa lawan tak akan mampu masuk ke lini pertahanan kami sekaligus menjadi poros dari segala serangan.

3 komentar:
SALUT SALUT TX AREMA EMANG JOS....
toek sam yuli sumpil ..ayo yulll semangatttt ...go go go ..!!!tapi yo ngunu jok kubam an ae ker hehehehe
atau seorang van basten membutuhkan gullit & rijkaard .. hehehe
saM ucuP Makasih Udah mau ngankat kami para aremania, Saya yakin sam ucup akan jadi warga terHormat di kota NGALAM
Post a Comment