Waktu saya kecil saya mengenal sosok yang satu ini sebagai panutan besar yang setiap saat namanya dijunjung tinggi sebagai simbol kemajuan bangsa ini. Setiap tahun dirinya disebut sebagai penyelamat bangsa bersama kekuatan Pancasilanya. Di tangannya Pancasila adalah hal terpenting bagi bangsa ini dan menjadi senjata utama untuk memusnahkan apapun yangn disebut tidak sesuai dengan bangsa Indonesia.
Kemudian saya mengenalnya sebagai Bapak Pembangunan, lalu saya mengenal dirinya sebagai profil utama di pecahan uang 50 ribuan yang mendadak muncul karena ekonomi negeri ini memang tidak pernah benar benar benar. Perubahan politik di negeri ini lalu membuat Suharto menjadi sang pesakitan, ialah dianggap sebagai sumber dari segala kekacauan sosial,ekonomi dan politis di negeri ini. Di dalam kuasanya, korupsi merajalela tidak karuan. Mahasiswa turun ke jalan, lawan-lawan politik maju menerjang dan jatuhlah ia pada bulan Mei 1998.
Sejak hari itulah segala atribut hebat yang disandang oleh pencetus Bintang Lima bagi seorang jenderal ini berbalik 180 derajat. Tuntutan untuk menyeretnya ke pengadilan dan mengambil segala harta negara yang telah diambil adalah agenda di setiap media. Anak-anak kecil menjadi rajin bertanya pada ibunya "Bu, kok Pak Harto di buku-buku sejarah dibilang Bapak Pembangunan tapi kalo di koran katanya mau dibawa ke pengadilan??" Saya tak peduli bahwa kemudian tak ada secuilpun hasil dari segala pengejaran harta Suharto ataupun mandulnya segala upaya hukum yang dilakukan.
Jika kemudian ia konon memutuskan untuk meninggal saja akibat tak mampu hidup tanpa menyaksikan aksi Aremania selama 3 tahun ke depan, bukan itu juga yang menjadi saya semakin bertambah bingung pada status Presiden Republik Indonesia yang ke 2 ini. Medialah yang selalu rajin membuat saya bingung, dalam kurun 10 tahun terakhir ketika nama Suharto disebut, maka status koruptor terbesarlah yang terus diangkat. Tapi dalam 2 hari ini, hanya sesaat setelah ia menghembuskan namanya, kecuali suratkabar Top Skor....semua media memuat wajahnya sebagai headline, televisipun sibuk memberitakan berita pemakaman dirinya, lengkap dengan lagu-lagu kepahlawanan dan segala jasa yang telah ia berikan pada negeri ini.
32 tahun ia memerintah dan 32 tahun itu pulalah ia memberi arah bagi bangsa ini, mencuci otak kita sekaligus membentuk opini serta standar benar salah kita secara sistematis. Itukah yang disebut media sebagai pahlawan? Ataukah memang seseorang harus meninggal dahulu untuk kemudian dikenang sebagai seorang pahlawan, seperti Suharto, Marc Vivien Voe ataupun Antonio Puerta.
Kemudian saya mengenalnya sebagai Bapak Pembangunan, lalu saya mengenal dirinya sebagai profil utama di pecahan uang 50 ribuan yang mendadak muncul karena ekonomi negeri ini memang tidak pernah benar benar benar. Perubahan politik di negeri ini lalu membuat Suharto menjadi sang pesakitan, ialah dianggap sebagai sumber dari segala kekacauan sosial,ekonomi dan politis di negeri ini. Di dalam kuasanya, korupsi merajalela tidak karuan. Mahasiswa turun ke jalan, lawan-lawan politik maju menerjang dan jatuhlah ia pada bulan Mei 1998.
Sejak hari itulah segala atribut hebat yang disandang oleh pencetus Bintang Lima bagi seorang jenderal ini berbalik 180 derajat. Tuntutan untuk menyeretnya ke pengadilan dan mengambil segala harta negara yang telah diambil adalah agenda di setiap media. Anak-anak kecil menjadi rajin bertanya pada ibunya "Bu, kok Pak Harto di buku-buku sejarah dibilang Bapak Pembangunan tapi kalo di koran katanya mau dibawa ke pengadilan??" Saya tak peduli bahwa kemudian tak ada secuilpun hasil dari segala pengejaran harta Suharto ataupun mandulnya segala upaya hukum yang dilakukan.
Jika kemudian ia konon memutuskan untuk meninggal saja akibat tak mampu hidup tanpa menyaksikan aksi Aremania selama 3 tahun ke depan, bukan itu juga yang menjadi saya semakin bertambah bingung pada status Presiden Republik Indonesia yang ke 2 ini. Medialah yang selalu rajin membuat saya bingung, dalam kurun 10 tahun terakhir ketika nama Suharto disebut, maka status koruptor terbesarlah yang terus diangkat. Tapi dalam 2 hari ini, hanya sesaat setelah ia menghembuskan namanya, kecuali suratkabar Top Skor....semua media memuat wajahnya sebagai headline, televisipun sibuk memberitakan berita pemakaman dirinya, lengkap dengan lagu-lagu kepahlawanan dan segala jasa yang telah ia berikan pada negeri ini.
32 tahun ia memerintah dan 32 tahun itu pulalah ia memberi arah bagi bangsa ini, mencuci otak kita sekaligus membentuk opini serta standar benar salah kita secara sistematis. Itukah yang disebut media sebagai pahlawan? Ataukah memang seseorang harus meninggal dahulu untuk kemudian dikenang sebagai seorang pahlawan, seperti Suharto, Marc Vivien Voe ataupun Antonio Puerta.

0 komentar:
Post a Comment