"Loe tanya sama yang jual, apa ada dari mereka yang orang Jakarta?" ujar Bapuk ketus pada teman-teman Aremania yang tentu saja berasal dari Malang. Apa sebab? Tentu sederhana, tak ada yang gratis di Jakarta kecuali kentut dan ketidak gratisan itu selalu lebih mahal daripada harga-harga di kota lain di luar Jakarta. Bandingkan saja nasi rawon yang bisa membuat saya ileran semaleman dengan porsi ala budak belian harganya jauh lebih murah dibanding nasi rawon di Jakarta yang cuma memberi porsi pejabat negara.
Saya suka jawaban Bapuk, dia memang bukan pejabat negara yang dengan cerdasnya menaikkan harga BBM dan telah merasa jitu dengan ide memberi uang pada masyarakat miskin. Bapuk juga bukan pejabat pemerintah, juga bukan kaum berkerah putih apalagi biru. Dia cuma seorang Jakmania yang selalu dianggap musuh oleh kelas menengah ibukota yang merasa dirinya lebih bijak daripada para begundal yang rajin mendukung tim asli daerahnya di Lebak Bulus itu. Tapi percayalah pada saya, rasa Jakarta Bapuk alias Deddy Syahrizal bisa jadi jauh lebih besar daripada para pengguna fasilitas kemewahan di kota ini.
Jakarta adalah kota yang luar biasa. Apa yang kami tidak miliki? Sebut segala simbol kapitalisme dunia, disini surganya. Kota mana di dunia ni yang memiliki tempat hiburan yang siap beroperasi 72 jam non-stop, saya berani jamin......HANYA JAKARTA!!!! Tapi ibukota mana juga yang terus diserbu banjir di dunia ini? Ya lagi-lagi juga cuma Jakarta, begitu juga dengan segala angka kemiskinan dan pengangguran itu.
Gedung-gedung dan mal-mal boleh bejibun, tapi percayalah hanya 30% dari total penduduk kota saya ini yang sanggup menikmatinya secara reguler. Bapuk dan ribuan teman mainnya di Lebak Bulus adalah bagian kecil yang juga tidak bisa menikmati kemewahan-kemewahan itu. Namun, berbeda dengan mereka yang bisa menikmati segala kemewahan dan kemacetan dari balik mobil ber ac, Bapuk sangat mencintai kotanya. Tak pernah saya dengar makian Jakarta yang mahal, ribet, macet, tak teratur, banjir, ngehek dan sebagainya. Karena saya rasa Bapuk sadar karena ia adalah warga kota ini dan berkewajiba untuk menjaga dan mencintai kotanya.
Berbanding terbalik dengan mereka-mereka yang terus saja memaki Jakarta macet, Jakarta sumpek, Jakarta mahal, Jakarta bangsat!, Jakarta taik dan sebagainya.....tapi terus membanjiri kota ini dengan segala modal yang mereka punya.
0 komentar:
Post a Comment