7/20/08


"They're not stupid, they're just politicians," ujar Hongjoo Hahm, lelaki Korea yang bersama organisasinya sedang memberi saya kesempatan membuat sebuah dokumenter tentang banjir. Peryanyataan ini memicu saya untuk kemudian bertanya pada siapapun Anda "Mampukah politik membahagiakan manusia?" saya dengan tegas dan nekad berani menjawab "TIDAK!!!" Politik memang memiliki kapasitas dan segala persyaratan untuk bisa membahagiakan manusia, namun sayangnya sangat jarang kasus berbahagianya manusia ataupun sekelompoknya karena politik, karena partai politik atau bahkan karena sebuah kebijakan.

Lalu saya akan tantang Anda untuk menjawab pertanyaan selanjutnya ini "Mampukah sepakbola membahagiakan manusia?" Jawaban saya tentu sudah Anda perkirakan sebelumnya "BISA!!!" karena memang itulah jawaban saya. Lihatlah warga Argentina saat Piala Dunia 2002 berlangsung, bahkan uang di ATM saja mereka sudah tidak bisa tarik, karena negeri mereka bangkrut habis-habisan. Lalu lihat seperti apa kota Napoli di era 80-an (masih terus terjadi sampai hari ini), secara ekonomi tentu mereka bukan siapa-siapa dibanding warga Milan, Torino dll, tapi Maradona yang memberi berbagai gelar lokal dan internasional telah mengubah hidup dan harapan mereka. Lihat juga bagaimana warga Argentina tumpah ruah di jalan-jalan bersama-sama mendoakan tim nasionalnya di Korea-Jepang 2002 yang lalu kita semua tahu mereka gagal total.

Lalu kapan politik bisa memberi bahagia masyarakat? Saat mereka berpawaikah? Tidak juga, karena banyak dari mereka datang tidak dengan hati yang tulus. Saat sang politisi memenangkan pemilihan? Tidak juga, karena mereka tidak akan pernah mampu memuaskan siapapun. Seperti sepakbola, politik juga memberi harapan....bedanya pada sepakbola adalah identitas dan lambang harga diri individu bahkan bangsa, sementara politik??????

Di Napoli Maradona adalah Tuhan, warga kota yang terus merasa tersisih di negerinya sendiri telah menasbihkan sang legenda ke tingkat tertinggi dalam kehidupan, yaitu Tuhan! Sebuah patung Maradonna berdiri megah tak jauh dari stadion kebanggaan masyarakat Napoli, hanya karena.....inilah sepakbola. Inilah permainan yang hak miliknya tidak lagi dimiliki oleh kelas tertentu, tapi menjadi simbol sebuah budaya baru yang melewati masanya sendiri.

Malam ini saya bergabung dengan teman-teman Jakmania menyaksikan tim kami memukul Persib di kandang lawan. Saat itu juga saya melihat kebahagiaan luar biasa dari wajah mereka, orang-orang Jakarta yang di rumahnya sendiri sering disebut sebagai "pengacau" hanya karena mereka tidak setiap hari bisa berkuasa di kotanya sendiri. Saya melihat mata Agung atau Andi yang berkaca-kaca saat Robertino mampu mencetak gol kedua bagi tim kami. Fanatisme saya memang tidak sekental mereka tapi saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Bukan karena kedua lelaki itu kini bekerja dengan saya, tapi karena saya pernah melihat Gustavo Ramirez dari Brasil, Marc Hermann dari Jerman atau Martin Tibabuzo yang menangis di pelukan saya saat tim mereka takluk di tangan lawan-lawannya. 

Tidak setiap hari Jakarta jadi milik Jakmania, hanyalah saat-saat ketika Persija turun ke lapangan (dan memenangkan pertandingan) saat itulah para Jakmania merasakan bahwa Jakarta adalah milik mereka juga. Jakarta yang angkuh dan hidupnya yang keras, membuat tidak setiap hari kota ini dimiliki oleh semua orang dari segala lapisan. Tidak semua orang di kota kelahiran saya ini memiliki kemampuan untuk membeli segala kebahagiaan yang ditawarkan oleh gemerlapnya yang terus mempesona selama 24 jam sehari 7 hari seminggu dan 366 hari setahun. Tapi....saat Persija turun ke lapangan maka hari itulah si ibukota dimiliki oleh semua orang, tak peduli pada hasil akhir, karena harapan untuk terus hidup memang terasa jelas pada sepakbola, pada kehidupan itu sendiri dan energinya.

0 komentar: