"Tidak, saya tidak bimbang, saya hanya sedikit sebal dan merasa aneh!" jawab saya pada banyak orang. Saya sudah menetapkan pilihan pada sosok Rangga tapi nyaris semua orang mempertanyakan keputusan ini. Saya tidak memilih wajah-wajah salon dan nama-nama yang biasa berkeliaran di infotainment, tapi beberapa bagian penting dari tim saya mempertanyakan. "Dia (saya masih menghindari menyebut namanya) tidak punya kharisma," lalu mereka membandingkan pada para cowok ganteng yang sebenarnya juga bukan jaminan film laku dan bagus sebagai lebih kharismatik. Apa sih kharisma? Bagi saya pesona yang muncul dari seseorang yang tidak bisa begitu saja dimiliki oleh semua orang, berkharisma tidak berarti harus tampan dan ganteng bahkan keren, bagi saya Alex Komang atau El Manik memiliki kharisma yang sulit dijelaskan. Saya berkeras dan mereka memberi saya masukan lain "Kalau dia yang loe pilih, resikonya pemeran cewek bisa menolak," saya pikir, apa hak mereka?
Tapi begini penjelasannya, yang umum terjadi di negeri ini bukanlah aktor atau aktris yang mencari tantangan akting tapi lebih kepada memastikan bahwa karir mereka akan terus terkatrol, dan ini sebagian syaratnya. Bermain di PH besar, bermain bersama sutradara ternama dan bersanding dengan lawan main yang populer......jika saya jadi memilih si dia tadi, saya tidak memiliki ketiganya.
"Muke loe sepet bang," tanya seorang rekan kerja dan saya hanya menjawab "Lagi mikir gue," karena kepala saya terus berpikir tentang apa sih sebenarnya yang bisa menarik orang datang ke bioskop dan nonton? Popularitaskah, ketampanan atau kecantikankah atau cerita yang menarik dan layak dicerna? Suatu kali saya pernah berkata "Otto Rehagel memiliki tim tanpa bintang di 2004, tapi dengan caranya ia mampu menundukkan Eropa,"
Saya ingin bertanya pada Anda, dan benar-benar membutuhkan jawabannya.

7 komentar:
Saya lebih setuju dengan kata hati sendiri.
Tambahan... Gimana kalo bung Ucup memunculkan Nicholas Saputra yang baru?
Yah kyk everton menghadirkan Rooney... (Ups...)
Setuju dengan adrian priambudi (walaupun saya tidak tau dan tidak kenal siapa adrian priambudi).. lebih baik mendengarkan kata hati daripada menyesal... Kalaupun hasilnya tidak seperti yang diharapkan, setidaknya sudah mengikuti kata hati...
yg jelas, bang. kayaknya memang banyak juga yg bosan dengan yg sering hilir mudik di infotainment atau layar bioskop itu.
kalo saya seh ... pengennya nonton tontonan yang jujur, yang dibuat-buat, baik itu akting maupun skenarionya, yg paling utama tuh pemerannya new comer.
bosen aja liat pemeran sinetron skrang, tampang ma akting berbanding lurus ... standar!!
eksploitasi tuh "calon bintang" baru, entah itu harus blusukan ke "tarkam" ato ke "akademi-akademi" akting, insya Allah anda akan dapet sesuatu yg jujur :D
jngn ambil yg instan dari agen. percaya deh :)
edit : kalo saya seh ... pengennya nonton tontonan yang jujur, yang dibuat-buat, ...
maksudnya tuh tontonan yg ga dibuat buat :D
thx ...
Ada novel Robert Garris judulnya IMPERIUM. Itu kisah Cicero. Konon, pada jamannya, untuk jadi Konsul atau apa pun (status yang tinggi pastinya, yang memungkinkan bisa korupsi...) harus memenuhi satu dari 3 syarat: uang, darah bangsawan, atau tentara. Cicero ga punya satu pun dari syarat itu. Dia hanya punya kefasihan, kefasihan, dan kefasihan.
Dari mana kefasihan?
1. Studinya yang kenceng di Akademi Plato.
2. Kemampuannya membaca situasi.
3. Keberanian mengikuti konsekuensi logis pemikiran.
Mungkin karena itu, atau karena Cicero minus nafsu menjabat untuk korupsi, dia berhasil jadi satu pemimpin di Imperium Romawi yang terus dicatat sejarah.
(Hehehe... mungkin itu ilustrasi yang rada ga nyambung)
Post a Comment