9/3/08





"Film loe tidak menggambarkan Jakmania, gue gak bisa kasih ijin," ujar Danang Ismartani, Ketua Umum Jakmania tentang karya terbaru saya yang sedang masuk tahap produksi, Romeo*Juliet. Saya tahu location manager saya menahan kesal saat mendengar kata-kata itu, Agung namanya dan ia adalah salah seorang Jakmania yang sengaja saya ajak karena ia sangat memahami tiap jengkal Jakarta. Saya sama sekali tidak kesal pada apa yang disampaikan Danang pada Agung, saya bahkan tidak tersinggung apalagi peduli saat menemukan sekretariat Jakmania ia kunci dengan alasan yang tidak jelas. "Makanya jangan naroh emas berlian di sekret," ujar saya berseloroh. 

Saya tidak bisa sebal, tapi saya tidak bisa melarang tim saya untuk menjadi antipati pada Danang dan Jakmania. Kami merasa bahwa kami sama sekali tidak berusaha mendiskreditkan mereka, apalagi mayoritas kru produksi berdomisili di Jakarta. Sama seperti di Bandung saat Heru Joko menyatakan penolakannya, saya rasa kami tidak perlu mengkeret karena "Whatever doesn't kill you, will always make you stronger,"

Inilah pengalaman kami di hari ke 6 Romeo*Juliet, kami tetap semangat....apalagi saya yang terus menemukan api di produksi ini. Edo striker yang kami miliki semakin menemukan sentuhannya, secara progresif aksinya semakin memikat dan saya dengan berani menukar Bapuk sebagai gelandang serang bergabung bersama Ramon dan Norman untuk menopang aksi Edo, sembari menarik Sissy sebagai jangkar bergabung bersama Alex Komang. Bapuk bukan aktor, pekerjaannya selama ini pun tidak pernah jelas, yang saya tahu pasti ia selalu pergi kemanapun Persija bertanding, tapi memasuki hari kedua dan seterusnya aksinya membuat saya yakin bahwa the next Advent Bangun sudah datang.

1 komentar:

Anonymous said...

udah ahh...

danang doang didengerin....


Persetanlah sama ketum an****


The Jak sejati santai2 aja kok...