"Musik adalah soal rasa," saya yakin kalimat saya ini bukan komentar senada pertama yang Anda dengar tentang musik. Seperti akar seni yang lain, dibutuhkan rasa untuk bisa menjustifikasi musik sekaligus mengapresiasinya. Saya sungguh percaya bahwa segala pembenaran bahwa seni ini bisa laku dan seni itu tidak laku bukanlah didasarkan pada azas rasa, tapi lebih pada kekerdilan hati dan rasa mereka yang merasa berhak menentukan apa yang bisa diberikan pada masyarakat.
Saya bukan penggemar musik klasik, bagi saya genre ini lebih terasa sebagai ilustrasi segala film animasi era Hanna-Barbera atau Walt Disney, juga banyak film horror yang memang paling pas jika diketemukan dengan denting piano dan cello yang mencekam atau berkecepatan tinggi. Tapi saya lagi-lagi percaya bahwa musik adalah soal rasa, seperti ketika saya dengan ragu mengajak alm. Aheng Suhendar menyaksikan Jakarta Philharmonic Orchestra beberapa tahun silam. Aheng adalah penggemar segala musik cadas, konser Helloween adalah konser yang mempertemukan kami kembali setelah 6 tahun tanpa kontak. Lalu secara acak kami bersama nonton Suffocate, Napalm Death, Kreator dan segala band cadas lokal. Tapi saya teringat bagaimana ia bertepuk tangan dengan keras sekaligus memuji aksi para musisi diatas lapangan sembari berkata "Gila ngejaga temponya!"
Saat itu saya mengamini pendapat dia dan seperti hari itu semalam saya menyaksikan sebuah pertunjukan yang sangat tidak biasa saya tonton sendirian. Ananda Sukarlan nama pianis itu, saya jamin ia takkan kenal nama Rick Wakeman atau Jon Lord apalagi Kevin Moore dan Jordan Rudess yang sangat saya puja, tapi malam itu saya tetap menemukan kedahsyatan pada apa yang ia capai. Saya mungkin kurang memahami segala teknik piano yang ia punya, entah itu kecepatan atau tingkat kesulitan partitur yang dimainkan, tapi satu hal yang saya pahami....rasa yang ia berikan membuat merasa bahwa yang ia suguhkan setara dengan ketika saya tergaga-gaga menyaksikan live A Scene of New York dari Dream Theatre.
Tentu bukan karena ia membuatkan saya komposisi-komposisi musik indah buat Romeo*Juliet saya lalu saya berkata bahwa Ananda telah bermain baik, sama sekali tidak. Tidak merasa bahwa musik yang sering kami (saya dan teman-teman para metalgoers) bilang sebagai membosankan ini terasa membosankan di Graha Bhakti Budaya kemarin adalah pembuktiannya. Vokal Joseph Kristanto dan Bernadetta Astari benar-benar membuat saya semakin memuja mereka. Ratusan kali mendengar suara pasangan bariton-alto ini setiap mengedit film saya terasa semakin lengkap saat mendengar vokal keduanya langsung di depan mata.
Saya tergetar dan sedikit meneteskan air mata, saat Detta dengan lantang berkata "........aku, mencintaimu....itu sebabnya aku tak akan pernah selesai mendoakanmu...." suaranya yang kata Ananda terbaik itu membuai saya dan membuat saya lupa pada kalimat saya sendiri bahwa Alannis Morisette adalah penyanyi perempuan terbaik di dunia. Atau saat Akis bersenandung "Kasih....cintamu menghampiriku, aku bahagia...aku bahagia..." saya jadi terhenyak dan bertanya pada kata-kata yang berulang kali saya sebut bahwa Sebastian Bach, Joey Belladonna dan James La Brie adalah para lelaki dengan vokal terbaik. Masih teringat sampai saat ini ketika saya tersentuh dan merinding mendengar lantunan suara Akis yang seolah membelah perasaan saya sembari menyentuh otak saya.
Saat Ananda berkata di atas panggung "Kali ini saya datang ke Jakarta tidak hanya untuk New Year's Concert tapi juga mengcompose musik untuk filmnya Andibachtiar Yusuf," saya berharap bahwa apa yang saya punya dan apa yang ia punya bisa menyatu persis seperti nada-nada piano yang malam itu ia mainkan dengan vokal Detta dan Akis.....atau setidaknya seperti duet legendaris Romario-Bebeto.

0 komentar:
Post a Comment