
Vuk Jevremovic
Saya bertemu dengannya di Regensburg dua tahun lalu, tepatnya November 2004. Vuk sosok yang sangat menarik, animator handal dengan teknik terbaik yang pernah saya lihat. Lucunya saya bertemu denganya hanya sebentar saja, tak lebih dari 10 menit. Kami keluar dari gedung pertunjukan di kota berpenduduk 150 ribu orang tersebut, ia berjalan menuju bar sementara saya memutuskan untuk pulang. Maklum masih jetlag.
Hanya sebegitu, satu kalimat yang saya paling ingat "Hey, who's scarf is this? You? From Indonesia? Isn't it to hot for you? It's so tick!" sembari mengelus syal Jakmania dari Persija yang saya bawa. Kalimat selanjutnya adalah undangan untuk menonton film miliknya dua hari kemudian. Saya tidak datang karena memutuskan untuk menonton Five Obstructions punya Lars Von Trier yang ternyata tidak hanya berbahasa Denmark, tapi juga ber-subtitle bahasa Jerman. Salah satu film bagus yang sanggup membuat saya tertidur hehehe......
Hanya itu, selanjutnya saya mengemail Vuk karena tahu saya akan kembali ke Jerman dan saya memutuskan untuk menonton pertandingan Bayern Muenchen-Arsenal. Saya tidak pernah menyangka Vuk akan merespon positif. Jadilah saya menuju Muenchen selepas workshop di Berlin hanya tiga bulan setelah Regensburg Kuzfilmwoche. Saya menumpang di rumahnya dan menemui fakta bahwa ia adalah pelarian perang saudara di Yugoslavia.

"My brother, you must think that I'm a killer," ujarnya. Ia tahu Indonesia sangat membenci orang Serbia seperti dirinya. "I was there to protest, then I ran....I didn't want to kill my neighbour," ujarnya lirih. Dua malam saya menginap di rumahnya dan bagi saya sangat berkesan.

Muenchen kota yang angkuh, dipenuhi orang-orang penuh gaya, berbiaya hidup lebih mahal dari Berlin dan saat itu sedang dingin-dinginnya. "It's minus 8 celcius, you need to wear two socks," ujarnya saat saya bersiap menuju Olympia. Kunjungan kedua saya ke salah satu "tempat ibadah" manusia. Saya menuruti dan mendapati diri saya tetap kedinginan setengah mati, bahkan tidak sempat melihat gol balasan dari Kolo Toure akibat sedang sibuk menggigil. Bule-bule itu sih sudah hafal alam mereka, mereka membawa selimut dan sebagainya.....sementara saya, datang dari negeri nyaman bernama Indonesia, mana kenal salju???
Beberapa jam sebelum kick-off, Vuk mentraktir saya bebek khas Muenchen. Ia menyebut dirinya orang timur dan sangat ingin melihat Indonesia. Ia terbelalak saat mengetahui aksara Indonesia juga menggunakan huruf latin "Wow man! You use latin...." Saya kaget, baru menyadari masyarakat dunia bisa tidak tahu bahwa kita menggunakan aksara yang sama dengan kebanyakan masyarakat dunia.

Hari ini Vuk berada di Barcelona, saat menghubungi saya ia bilang "I met a girl in Kairo, a Spanish girl, I think I'm gonna marry her," lalu ia juga bercerita "My brother, I was there! In Nou Camp, I almost cried, you have to come here, to see this beautiful stadium," suatu hari saya akan kesana, saya bilang pada Vuk saat terakhir kali menelpon dirinya "I'll be there mate, I will, I promise you...we'll watch the game together,"
2 komentar:
Kasih link posting ini ke Vuk, biarpun dia hanya akan ngerti paragraf terakhir, tapi paling nggak dia yakin kalo Bahasa Indonesia pakai aksara latin! Ntar deh, kl ke Munich, eike ajari Vuk nulis aksara Jawa pake hanacaraka, biar dia pingcan!!!
*hidup mujaw*
Viktric apa kabar? Kalo ke Singapore kontak2 dia dooong...
Post a Comment